| 
Gula tebu yang kita konsumsi sehari-hari adalah sukrosa. Gula ini paling umum dikonsumsi, rasanya manis dan enak. Gula tebu atau lebih dikenal sebagai gula pasir terdiri atas 2 gugus monosakarida yaitu glukosa dan fruktosa. Setelah menjadi monosakarida, gula diserap usus, kemudian masuk ke darah dan disebut dekstrosa (gula darah). Adanya gula di dalam darah memicu pankreas menghasilkan insulin. Insulinlah yang membawa gula darah masuk ke dalam sel. Di dalam sel, gula ini akan dimetabolisme menjadi energi atau disimpan lebih lanjut menjadi lemak. Pada dasarnya rasa manis bukanlah kebutuhan. Daripada mencari pengganti gula yang belum tentu aman dikonsumsi, mengapa bukan pola pikir yang coba diubah, bahwa tidak semua makanan dan minuman yang dikonsumsi harus manis, dan tidak semua rasa manis itu enak. RAGAM GULA DIET Selain gula yang terbuat dari tebu, ada juga beberapa pemanis buatan. Berikut di antaranya: 1. Gula jagung Gula jagung dan produk-produk lainnya seperti sirup terbuat dari tepung jagung yang ditambah enzim sehingga menjadi fruktosa. Kalori yang dihasilkan lebih rendah dari gula pasir sehingga banyak digunakan sebagai gula diet. 2. Sakarin Sakarin umumnya berbentuk garam sakarin. Rasanya 300 kali lebih manis daripada gula pasir tetapi tidak mengandung gizi (low calory, non-nutritive). Meski tidak berbahaya, sebaiknya gula jenis ini tidak dikonsumsi secara berlebihan karena mengandung sodium. Bila dipanaskan (dimasak), sakarin akan menimbulkan rasa pahit. 3. Aspartam Aspartam merupakan pemanis yang terbuat dari 2 molekul asam amino. Setelah dicerna oleh tubuh, kemudian dipecah menjadi asam aspartat, fenilalanin, dan metanol. Masing-masing zat tersebut dapat digunakan sebagai zat gizi. Namun penderita penyakit fenilketonuria, suatu penyakit herediter (diturunkan) dimana penderita tidak mampu menghasilkan enzim untuk memecah fenilalanin disarankan tidak mengonsumsinya. Bila dipanaskan, aspartam akan kehilangan rasa manisnya. 4. Gula alkohol Pemanis rendah kalori lainnya adalah gula alkohol, contohnya xylitol, sorbitol, manitol. Gula ini meninggalkan rasa segar di mulut. Umumnya digunakan dalam permen dan produk-produk perawatan mulut seperti pasta gigi, obat kumur, dan sebagainya. Pemanis ini memunyai kalori 1,5-3 kkal/g. Namun sebagian tidak dapat diserap di usus halus, sehingga penggunaan lebih dari 50 g dapat mengakibatkan diare. 5. Sukralosa Belum lama ini ada jenis pemanis baru yang beredar di Indonesia, dikenal dengan nama sukralosa (splenda). Keunggulan pemanis jenis ini adalah dapat dipanaskan sehingga bisa digunakan sebagai bahan pembuat kue yang aman bagi yang harus diet gula. DIABETES VS KONSUMSI GULA Pada orang normal, gula di dalam darah akan mencapai puncaknya 2 jam setelah makan, kemudian turun lagi bersamaan dengan dilepasnya insulin. Pada penderita diabetes, insulin yang dihasilkan tidak dapat bekerja dengan baik atau produksinya kurang. Akibatnya, bila mengonsumsi makanan yang banyak mengandung gula, maka gula di dalam darah tetap tinggi dan mengakibatkan rusaknya kerja sel-sel darah putih dan dinding pembuluh darah. Gula darah juga bisa dihasilkan oleh makanan jenis karbohidrat. Nasi, kentang, buah, dicerna di usus oleh enzim menjadi molekul yang lebih kecil yang disebut monosakarida. Ada 3 jenis monosakarida, yakni glukosa, fruktosa, galaktosa. Karbohidrat sendiri digolongkan dalam 2 kelompok, simpleks dan kompleks karbohidrat. Yang disebut simpleks adalah gula tebu atau gula pasir, gula buah, dan gula susu. Gula-gula tersebut umumnya terdiri atas 2 molekul monosakarida saja. Ukuran molekulnya kecil sehingga sangat mudah dicerna menjadi monosakarida tunggal. Sedangkan karbohidrat kompleks merupakan ikatan yang kompleks dari monosakarida. Jumlahnya bisa lebih dari 100 gugus monosakarida yang jalin-menjalin, sehingga sulit dicerna menjadi molekul monosakarida tunggal. Gula pasir cepat sekali menaikkan gula darah dibanding nasi atau kentang. Selain itu seluruh molekul gula (100%) masuk ke dalam darah. Sedangkan gula yang dihasilkan dari pencernaan nasi, tidak cepat meningkatkan gula darah (perlu waktu mencerna) dan tidak 100% menjadi gula darah karena komponen nasi selain karbohidrat juga ada serat. Itulah sebabnya gula pasir tidak dianjurkan bagi penderita diabetes. Meski tidak dianjurkan, bukan berarti gula pasir tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Dalam sehari, penderita diabetes boleh mengonsumsi gula sebanyak 10% dari total kebutuhan kalorinya. Contoh, seorang diabet memerlukan 1.700 kkal dalam sehari. Berarti ia boleh mengkonsumsi maksimal 10% x 1700 = 170 kkal dari gula. Satu gram gula mengandung 4 kilokalori, maka ia dapat mengkonsumsi 170 kka: 4 kkal= 42,5 g gula atau sekitar 3 sendok makan peres gula pasir. LATIH DIRI Pemanis buatan aman digunakan dalam jangka panjang. Namun tidak disarankan dipakai dalam jumlah banyak karena kadar manisnya sekian kali lipat dari manisnya gula pasir. Yang perlu dicamkan, sebenarnya rasa manis hanyalah suatu kemewahan dan bukan kebutuhan primer bagi tubuh. Nah, daripada mencari pengganti dari gula buatan, lebih baik melatih diri untuk tidak tergantung pada rasa manis, bukan? Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman & Agus/nakita Konsultan Ahli: Dr. Endang Darmoutomo, MS, Sp.GK., dari RS Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci. |